Postingan

Sepahit Air Laut

Gambar
(Dan Aku tidak tahu berapa jarak yang harus kubuat untuk membuatmu nyaman) Sudah kubayar semua hutang rindu pada tanah dimana kuhabiskan masa kecil dan remaja ini. Dari hutan yang pohonnya rindang hingga gersang yang panasnya mematikan. Menembus langit dan melayang menjajaki malam yang tak bersahabat. Seberapa banyak pengorbanan yang kulakukan demi menyapa kampung halaman. Kau tahu aku rindu kepada waktu yang tak pernah menghiraukan perasaan. Ketika banyak waktu yang harus terbuang demi menunggu hal kecil yang tak pasti. Ku bayar janji dengan hati yang telah hilang. Kepada mentari yang membuat kecemburu itu semakin berapi. Separuh raga ini menjadi abu dari luka yang dibawa bersama burung kenari. Bangunlah, fajar telah datang dan engkau hanya diam dalam lamunan. Tolong Katakan pada Dilan, yang berat itu kini tak hanya Rindu. Tahu Kenapa Merpati tidak pernah lari meski dilepas dari sangkarnya ? Sejauh mungkin ia ingin terbang bersama kenangan dan ketakutan....

HALLO PAK KETOS

Gambar
"Aku yang kau suruh melantangkan Pancasila di atas Panggung" Jika kau membaca catatan ini, entah sengaja maupun tidak, tapi kurasa dalam kepercayaanku, engkau tak akan pernah membaca catatan ini. Saat menulis hal-hal dibawah ini, entah mengapa hari itu aku sedang Rindu melihat mu menunggu di halaman sekolah membuat semua siswa baru berlarian kalang kabut. Ini hanya sebaris kisah tentang masa awal SMA yang kelam. Berawal dari masa dimana hanya ada aku dan beberapa senior itu di ruangan. Tugas ku mencari nama dan tanggal lahir mereka untuk dikumpul di hari pertama sekolah. Semua baik sebelum aku menuliskan argument kecil di branda facebook mengenai penugasan ini. Pagi itu aku terkurung bersama anteng-anteng si tuan jingga. Mendekam dan seolah meraut keberanian ku. Bulan suci itu bahkan hanya memperhalus, tak mampu menolong sejauh yang aku harapkan. Ku haharap semua siswa membenci datangnya hari itu. Bahkan hingga aku membenci semua isinya. Di atas pa...

Sang Pendusta

Gambar
(Teluk Sebong:2017) Dalam Jenuh aku meratap senja dan bertanya “Dimana Aku Harus Berhenti ?” Sendu Mendayung hingga tangisku tak tersisa Ragu menyelimuti dan membuatku seolah gila Semua orang bertanya arah mana yang benar kepada ku Aku salah dan semua orang pun tersesat Bumi dan langit menjauh dari ku Aku bodoh, buta, tuli, kacau Aku tenggelam dalam kekacauan yang membungkam Sejauh semua orang pergi dan mempertahankan harga diri Aku masih bertahan memperjuangan yang tak pernah menghargai Aku buta karena tak memihak pada mentari Aku tuli karena tak menyahut rintik hujan Aku lumpuh yang di kuasai nafsu dalam rasa bersalah Kini nafas ku hanya di ujung rogga hidung Semua yang ku perjuangkan tak lagi ada di ujung dahi Jika memang hal terbaik datang di akhir senja Ku harap luka tak pernah kembali Kepada mimpi-mimpi yang pernah ku harap tak pergi Kau sebut aku sang pendusta diri Berjuang sendiri meski gagal berulang kali Bertahan disini meski e...