Postingan

Berdamai Saja Dengan Lelah

Gambar
(langkah kaki ini akhirnya mulai letih untuk lari mengejar setiap masalah yang sama) Ini tentang perjalanan saya menelusuri kota kecil yang dijuluki Venetiƫ van Java atau Venesianya Pulau Jawa. Entah harus dimulai dari mana semua berjalan begitu mendadak dan begitu nekad hingga pada hari itu dengan bermodal tas ransel biru dongker dengan perkakas nya saya berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Semarang Tawang. Hari itu masih dalam suasanan bulan Ramadhan sehingga perjalanan ini terasa begitu panjang, karena yang paling ditunggu bukan hanya kapan waktu tiba di stasiun tujuan, tapi kumandang azan magrib masih menjadi tranding topic untuk hal-hal yang paling ditunggu-tunggu hari itu. Malam itu ketika tiba di Stasiun Semarang Tawang saya bertemu dengan orang yang akhirnya ingin saya temui setelah beberapa waktu lamanya tidak berjumpa. Dia adalah teman satu kos (eh mantan teman satu kos deng) yang kini telah kuliah dan menetap di Semarang, padahal sebelumnya ia menem...

Raga yang Hilang

Gambar
(Ini Kisah Perjalanan Penulis Menjajahi 3 Negara Tetangga dengan Lika Liku Perjalannya) Pagi yang sejuk pada lintasan terbang yang masih ditutupi embun kerinduan. Entah bagaimana menikmati warna langit yang tampak bersahabat waktu itu. Terlelap dalam buaian sendu 2 jam perjalanan yang sangat senyap. Tak lama setelahnya kita sampai pada   dunia yang 2 jam lebih cepat dari dunia sebelumnya. Ini Negeri yang orang-orang sebut sebagai Negeri Jiran. Orang, Budaya, Sosial, Bahasa, Tingkah laku, dan segalanya hampir taka da yang berbeda dengan kampung halaman ku. Aku belum berani keluar mencari kemana aku berada. Banyak hal yang bekabung dalam kepungan pepohonan sawit dan getah. Banyak waktu yang dihabiskan dalam mesin penghantar dengan diam. Aku takut untuk mencoba lebih jauh. Sepanas udara yang perlahan menghantarkan rintik hujan. Dibawah bendera negeri malaka. Ku sisipkan salam untuk kamu yang membuat semua hal terasa indah. Membuat setiap senyum yang men...

Sepahit Air Laut

Gambar
(Dan Aku tidak tahu berapa jarak yang harus kubuat untuk membuatmu nyaman) Sudah kubayar semua hutang rindu pada tanah dimana kuhabiskan masa kecil dan remaja ini. Dari hutan yang pohonnya rindang hingga gersang yang panasnya mematikan. Menembus langit dan melayang menjajaki malam yang tak bersahabat. Seberapa banyak pengorbanan yang kulakukan demi menyapa kampung halaman. Kau tahu aku rindu kepada waktu yang tak pernah menghiraukan perasaan. Ketika banyak waktu yang harus terbuang demi menunggu hal kecil yang tak pasti. Ku bayar janji dengan hati yang telah hilang. Kepada mentari yang membuat kecemburu itu semakin berapi. Separuh raga ini menjadi abu dari luka yang dibawa bersama burung kenari. Bangunlah, fajar telah datang dan engkau hanya diam dalam lamunan. Tolong Katakan pada Dilan, yang berat itu kini tak hanya Rindu. Tahu Kenapa Merpati tidak pernah lari meski dilepas dari sangkarnya ? Sejauh mungkin ia ingin terbang bersama kenangan dan ketakutan....

HALLO PAK KETOS

Gambar
"Aku yang kau suruh melantangkan Pancasila di atas Panggung" Jika kau membaca catatan ini, entah sengaja maupun tidak, tapi kurasa dalam kepercayaanku, engkau tak akan pernah membaca catatan ini. Saat menulis hal-hal dibawah ini, entah mengapa hari itu aku sedang Rindu melihat mu menunggu di halaman sekolah membuat semua siswa baru berlarian kalang kabut. Ini hanya sebaris kisah tentang masa awal SMA yang kelam. Berawal dari masa dimana hanya ada aku dan beberapa senior itu di ruangan. Tugas ku mencari nama dan tanggal lahir mereka untuk dikumpul di hari pertama sekolah. Semua baik sebelum aku menuliskan argument kecil di branda facebook mengenai penugasan ini. Pagi itu aku terkurung bersama anteng-anteng si tuan jingga. Mendekam dan seolah meraut keberanian ku. Bulan suci itu bahkan hanya memperhalus, tak mampu menolong sejauh yang aku harapkan. Ku haharap semua siswa membenci datangnya hari itu. Bahkan hingga aku membenci semua isinya. Di atas pa...

Sang Pendusta

Gambar
(Teluk Sebong:2017) Dalam Jenuh aku meratap senja dan bertanya “Dimana Aku Harus Berhenti ?” Sendu Mendayung hingga tangisku tak tersisa Ragu menyelimuti dan membuatku seolah gila Semua orang bertanya arah mana yang benar kepada ku Aku salah dan semua orang pun tersesat Bumi dan langit menjauh dari ku Aku bodoh, buta, tuli, kacau Aku tenggelam dalam kekacauan yang membungkam Sejauh semua orang pergi dan mempertahankan harga diri Aku masih bertahan memperjuangan yang tak pernah menghargai Aku buta karena tak memihak pada mentari Aku tuli karena tak menyahut rintik hujan Aku lumpuh yang di kuasai nafsu dalam rasa bersalah Kini nafas ku hanya di ujung rogga hidung Semua yang ku perjuangkan tak lagi ada di ujung dahi Jika memang hal terbaik datang di akhir senja Ku harap luka tak pernah kembali Kepada mimpi-mimpi yang pernah ku harap tak pergi Kau sebut aku sang pendusta diri Berjuang sendiri meski gagal berulang kali Bertahan disini meski e...

Kinang Kilaras

Gambar
( Dokumentasi Pribadi:2017) LATAR BELAKANG KARYA Seiring dengan perkembangan zaman dimana banyaknya akulturasi terhadap budaya baik yang berasal dari luar maupun dari dalam mempengaruhi kecintaan seseorang terhadap identitas budayanya sendiri salah satunya adalah suku Betawi yang menjadi etnis yang berkembang di wilayah Jakarta. Betawi memiliki keberagaman budaya baik dari musik, tari ,sastra, teater, dan rupa. Tari Topeng Betawi merupakan salah satu tarian popular yang berkembang dalam suku Betawi dan pada pertama kalinya ditemukan oleh Mak Kinang sekitar tahun 1930-an. Dari hal tersebutlah koreografer menciptakan sebuah karya yang merupakan sebuah penghargaan pencipta terhadap sepak terjang salah satu tokoh seniman betawi tersebut.  Kinang kilaras sendiri berasal dari dua kata yaitu kinang  yang berarti nama tokoh betawi (mak kinang) dan kilaras yang berarti selaras SINOPSIS KARYA Karya tari ini menggambarkan sekelompok wanita dengan gerap langkah...

Tumbuh Bersama Ilalang

Gambar
(Dia Ayah-ku, Si Penakluk Hutan Tropis) Ketika awan terbakar hingga langit berlubang Pohon pohon terkapar letih tanpa daya Mata air dahaga diambang kegelisahan Burung burung membisu diantara kenaifan Dalam ruang nafas hamba merintih kesakitan Bergerak atau diam dalam ketakutan Bertindak atau mati dalam kekeringan Oksigen mencekik gemuruh embun surgawi Terkepung ilalang setinggi lumbung penyesalan Bangkit dalam semanjung hasrat kedamaian Menyemai benih bahagia diujung peristiwa Niscaya subur engkau tumbuh bersama ilalang